Dewasa ini, kebutuhan akan sebuah berita sudah menjadi kebutuhan masyarakat, pun demikian dengan dunia jurnalistik semakin menunjukkan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat yang haus akan berita. Hal ini disebabkan rasa ingin tahu manusia yang semakin kompleks. Bahkan segala peristiwa yang terjadi mulai dari desa, kota sampai di jagad raya inipun tak luput dari perhatiannya. Disinilah peran penting kita sebagai jurnalis yang selalu siap dan bisa memberikan informasi yang menarik bagi masyarakat.
Berita bisa diibaratkan sebagai makanan. Jika kita pergi ke pasar, disana tersedia bermacam-macam jenis makanan. Orang akan memilih atau ”menyerbu” jenis makanan tertentu yang disukai sehingga makanan tersebut habis dan ”laris manis”. Tetapi mungkin juga ada satu atau dua orang yang memilih makanan lain sehingga makanan tersebut menumpuk atau dengan kata lain ”tidak laku” dan berakhir di keranjang sampah. Kita sebagai jurnalis pun harus demikian, pandai memilah-milah bahan berita. Banyak berita yang layak untuk diekspose. Tetapi tidak sedikit pula berita yang cukup dibiarkan berlalu begitu saja.
Nah, untuk memperoleh berita, kita lakukan dengan apa yang dinamakan reportase (liputan berita atau penggalian berita). Reportase merupakan nafas bagi aktivitas jurnalistik, baik itu dalam media cetak maupun media elektronik. Karena merupakan sebuah nafas, maka kemampuan reportase wajib dimiliki oleh seorang jurnalis dalam menyuguhkan informasi bagi masyarakat. Sampai saat ini sudah banyak diterbitkan buku dan teori yang mengkaji bagaimana ”belajar melakukan reportase”. Mungkin sekarang sudah ada puluhan, hingga ratusan buku dan diklat jurnalistik, namun yang berhasil menjadi reporter (orang yang menyampaikan sebuah reportase) masih minim.
Sebenarnya reportase secara teori maupun riil di lapangan sangatlah sederhana. Yakni usaha menggabungkan antara penglihatan, pengamatan, pendengaran, data, dan wawancara. Reporter yang cukup handal mampu menunjukkan bahwa peristiwa yang dilihatnya bisa tersampaikan secara detail kepada masyarakat. Sehingga person-person yang tidak tahu peristiwa itu sama sekali, menjadi tahu dan bisa tercerahkan.
Sebelum kita melangkah lebih lanjut mengenai reportase, lebih baiknya kita mengetahui dulu, hakikat sebuah berita? Orang bebas menerjemahkan apa itu berita sesuai dengan rasionya masing-masing. Belum ada pedoman yang baku tentang pengertian berita. Namun setidaknya kita mencoba untuk mendefinisikannya, berita dapat kita katakan ”Tulisan ataupun perkataan orang, yang isinya menceritakan tentang suatu peristiwa dan kejadian, mendekripsikan kejadian-kejadian yang dilihatnya, ataupun menyatakan pendapatnya.” Adapun pada umumnya berita dibedakan sebagai berikut :
- Straight News atau berita langsung adalah berita yang isinya berupa pemaparan sebuah peristiwa, yang sifat pelaporannya hanya menyampaikan informasi secara langsung dan berjalan seadanya.
- Feature atau berita kisah adalah berita yang berupa karangan khusus yang diangkat dari fakta di lapangan dengan menggunakan bahasa sastra yang bersifat menghibur sehingga menarik dalam sebuah media cetak. Jenis berita ini banyak melibatkan unsur perasaan ke dalamnya.
- Depth News adalah berita yang menganalisa secara mendalam terhadap suatu situasi, kondisi atau masalah yang ada dalam masyarakat. Depth News sendiri dibagi atas dua macam, yaitu :
- Investigative News adalah berita yang memaparkan asal-muasal terjadinya suatu kasus. Untuk menulis berita ini, diperlukan investigasi untuk mencari data-data yang bisa mendukung berita itu nantinya.
- Interpretative News adalah berita yang menganalisa kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi akibat munculnya suatu gejala. Bentuk berita ini lebih kepada prediksi-prediksi terhadap suatu kejadian-atau peristiwa.
Setelah kita mengetahui apa itu berita beserta jenis-jenisnya. Kita menginjak pada teknik-teknik yang bisa dipakai dalam melakukan reportase. Melakukan reportase sebenarnya sangat tergantung dari seberapa informasi yang akan disampaikan kepada masyarakat. Sebagai seorang jurnalis kita harus bisa mengukur seberapa besar informasi itu. Apa hanya cukup untuk informasi straight news, feature, atau depth news. Dalam posisi ini, selain selain peran jurnalis, seorang redaktur juga wajib punya kepekaan. Misalnya, untuk straight news yang hanya berupa pelaporan sebuah informasi tentunya seorang jurnalis tidak harus begitu detail dalam menggali informasi. Tetapi cukup memnuhi unsur 5W + 1H (what, who, where, when, why, dan how). Namun demikian, data-data tambahan juga perlu dimiliki oleh seorang jurnalis karena untuk berjaga-jaga apabila berita yang akan disampaikannya menjadi berkembang. Lain halnya jika akan membuat informasi yang berupa feature atau depth news, seorang jurnalis tidak hanya cukup 5W+1H dalam menggali informasi, tetapi butuh data tambahan lainnya yaiti 2W lagi (what’s the next dan what’s the end).
Sebagai jurnalis, agar kita dapat menghadirkan informasi yang lengkap dan bagus, kita harus mampu melahap semua informasi yang bisa kita gali di lapangan. Dengan kata lain, semakin banyak informasi yang dikumpulkan, semakin lengkap dan bagus pula informasi yang kita sajikan. Berikut ini beberapa teknik yang bisa kita pakai dalam menggali informasi di lapangan. Pertama, jurnalis harus mampu mencermati apa saja yang bisa dijadikan sebagai bahan informasi. Bisa dari sumber pertama, kedua, sampai pada sumber lain yang tidak mau disebutkan namanya (kalau yang ini wajib ada konfirmasi). Kedua, jika sudah menemukan ”unsur wajib” diatas, jurnalis harus tidak boleh menyerah tapi kita masih bisa mengamati yang ada di sekitarnya seperti bagaimana suasana, seperti apa warna, tinggi, dan besarnya. Intinya apa saja yang bisa dicerna dengan indera kita dapat kita ambil sebagai bahan informasi. Ketiga, jurnalis harus mampu lebih nekat lagi, yaitu harus mampu mengetahui apa yang terjadi di balik peristiwa. Kalaupun tidak untuk dikonsumsi oleh publik, minimal kita tahu latar belakang peristiwa itu untuk bekal kita memberikan informasi kepada masyarakat. Usahakan kita sebagai jurnalis tahu lebih dahulu sebuah peristiwa atau kejadian sebelum masrakat luas tahu. Dari sinilah yang menciptakan karakteristik seorang wartawan atau jurnalis dalam kehidupan sehari-harinya.
Mendapatkan informasi yang eksklusif adalah dambaan dan juga impian seorang jurnalis. Karena jika laporan seorang jurnalis itu merupakan berita yang paling baik dan tidak ada duanya, disitulah letak nilai kebanggaan sebagi seorang jurnalis. Yakni kebanggaan terhadap profesionalitas bahkan bisa dianggap merupakan sebuah kemenangan. Karena, untuk mendapatkan informasi yang eksklusif tersebut tidak mudah, kita membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Adapun beberapa kiat yang bisa dipakai dalam mencari berita yang eksklusif adalah sebagai berikut. Pertama, kita sebagai seorang jurnalis harus mampu memutuskan untuk mencari liputan yang berbeda dengan teman yang seprofesi dari media yang berbeda. Artinya, jika seorang jurnalis lainnya memilih katakanlah A sebagai bahan untuk diinformasikan, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin mencari berita yang lebih baik, artinya kita tidak hanya mencari berita A itu saja, tapi kita harus mencari nilai plus dari berita tersebut, dalam artian jika jurnalis lain mengangkat berita A, maka kita harus A+++. Jadi jika kitra sama-sama meliput sebuah berita, maka informasi utama lebih dulu dilahap, lalu kita ”menyelinap” untuk berusaha mencari pendukung informasi utama. Disinilah kita harus mempunyai kepekaan dan naluri yang luar biasa. Kedua, kita harus berani nekat dan ngluthus (tidak tersekat dengan ruang dan waktu dalam bekerja). Kenapa kita harus begitu? Karena kadang-kadang informasi yang bagus itu biasanya berada pada tempat dan waktu yang tidak kita sangka-sangka sebelumnya. Oleh karena itu kita harus selalu aktif dan bergerak cepat dalam mencari berita. Kita sebagai seorang jurnalis harus banyak menguping, mengintip, dan nggelibet.
Sekarang agar kita tidak bingung dalam meliput sebuah peristiwa atau acara dan lain sebagainya. Kita sebagai seorang jurnalis harus peka terhadap liputan yang non-tugas (liputan ada yang ditugaskan, juga ada yang non-tugas atau tidak ditugaskan secara resmi). Oleh karena itu, kita harus mengetahui news value (nilai sebuah berita) yang akan kitra angkat. Berikut ini sebelas poin news value yang biasa dipakai sebagai pedoman untuk mengangkat suatu berita:
- Aktualitas yang berarti suatu kehangatan suatu berita. Semakin hangat yang diberitakan, semakin menarik pula berita tersebut. Contohnya ketika kita sedang mendengar berita tentang terbunuhnya Dr. Azahari di kota Batu, Malang, maka berita yang tidak kalah menariknya pun seolah-seolah menjadi terlupakan seperti dampak kenaikan BBM.
- Magnitude adalah daya tarik yang mampu menyentuh perhatian orang lain dalam jumlah banyak dan radius yang luas. Contohnya, beberapa orang yang mati karena kelaparan akan kalah menariknya ketika kita mendengar berita beberapa orang yang mati akibat terkena wabah flu burung.
- Ketokohan. Bila suatu peristiwa sama-sama menimpa seorang tokoh dan bukan tokoh, yang menimpa sang tokolah yang lebih diutamakan. Tokoh disini bukan hanya tokoh formal, namun juga orang yang diakui ketokohannya dalam masyarakat. Contohnya, ketika kita mendengar seorang pemudik kecopetan maka itu sudah hal yang biasa, tetapi luar biasa jika kita mendengar seorang SBY kecopetan. Dalam benak kita timbul sebuah pertanyaan, “Kok bisa ? ”
- Inovatif berkaitan dengan penemuan-penemuan baru, baik dalam ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan seni. Misalnya, jika selama ini dikatakan bahwa orang Amerika sering melakukan penyimpangan seks, tetapi kemudian ada penemuan tidak demikian, maka itu itu layak untuk dinformasikan.
- Unik. John Bogart, editor majalah “New York Sun”, pernah mengatakan, “Kalau anjing menggigit orang, itu bukan berita. Tetapi jika, orang menggigit anjing, ini baru berita”. Pernyataan Bogart ini berkembang kepada hal-hal yang lain. Misalnya, pemain sepak bola Belanda, Dennis Bergkamp takut naik pesawat semenjak temannya mengalami kecelakaan di udara. Karena itu, dia tidak ikut klubnya, Arsenal, bila sedang bertanding di tempat yang jauh.
- Informatif bagi pembaca. Misalnya, kenaikan harga BBM, perubahan UU Lalu lintas, dan lain sebagainya.
- Tren, yang berarti gaya atau tradisi baru yang sedang berkembang di kalangan masyarakat. Misalnya sekarang banyak ABG yang mengenakan kaca mata warna-warni, begitu pula dengan gaya rambut, mode pakaian, dan pelangsingan rubuh.
- Dramatis. Misalnya berita pembunuhan, perkosaan, perampokan, atau perkelahian yang bersifat massal.
- Human Interest. Artinya menyentuh atau menggugah perasaan pembaca. Contoh, derita mantan wanita panggilan kelas tinggi yang kini hanya terbaring gara-gara menderita penyakit AIDS. Sekarang dfia bertaubat, namun keluarganya tidak sudi merawat dia. Hanya seorang keponakannya yang mau merawat, itupun lebih sering makian dan bentakan yang keluar dari mulut Sang keponakan.
- Langka atau unik. Peristiwa langka ini yang jarang dan hampir tidak pernah terjadi. Misalnya, ada ayam bisa terbang, kambing berkaki dua, dan lain sebagainya.
- Aneh. Informasi yang aneh-aneh pasti dibaca orang. Aneh maksudnya tidak mengada-ada, tetapi menjadi pergunjingan banyak orang.
Adapun salah satu cara, yang sering dipakai seorang jurnalis untuk mencari berita selain pengamatan langsung dan studi kepustakaan adalah dengan melakukan wawancara dengan narasumber. Bahkan, wawancara in memegang peranan yang sangat vital dalam kerja seorang jurnalis atau wartawan. Karena sebagian besar informasi bisa di dapat dari wawancara ini. Arti umum wawancara adalah pertemuan untuk untuk diskusi (meeting for discussion) yang secara sederhana merupakan suatu bentuk tanya jawab, yang tujuan utamanya untuk mendapatkan informasi, opini, pendapat, gagasan, pemikiran-pemikiran, ide-ide, tanggapan atau suatu kisah pengalaman seseorang, sebagai dasar dalam melakukan penulisan berita.
Dalam sebuah wawancara minimal ada 2 arah komunikasi dimana salah satu dari mereka kita sebut sebagai interviewer atau pewawancara, sedangkan pihak yang lain merupakan information supplier atau pihak yang memberikan informasi. Adapun tiga bekal yang harus dimiliki oleh seorang interviewer adalah sebagai berikut
Nuansa pribadi.
Interviewer harus memiliki ketrampilan, kecakapan, dalam menghadirkan pertanyaan yang mengena, tandas, dan mampu menimbulkan jawaban yang multi aspek.
Nuansa produktivitas.
Interviewer dituntut mampu maenghasilkan informasi yang tepat dalam wawancara.
Nuansa kreativitas
Interviewer harus mampu mengembangkan imajinasi dan wawasan sehingga senantiasa dapat melahirkan ide-ide baru sebagai modal untuk wawancara.
Bentuk wawancara juga dibagi menjadi 3 macam menurut tujuannya, yaitu :
Information Interview.
Tujuan utama untuk memperoleh keterangan atau informasi mengenai suatu peristiwa tertentu.
Feature interview.
Point utama dalam feature interview adalah mengorek kehidupan seseorang, khususnya orang yang mempunyai nama besar atau orang yang menjadi publik figur karena kejadian tertentu.
Opini interview.
Tujuan teknik ini adalah untuk mendapatkan opini, pendapat dari satu atau lebih sumber berita, yang nantinya akan didapati lebih dari satu pendapat atau bahkan terjadi pendapat yang saling berseberangan.
Wawancara juga terdiri dari dua tipe. Pertama, wawancara terstruktur artinya wawancara yang sudah disiapkan sebelumnya, baik itu jadwal, narasumber, dan bahan pertanyaan. Kedua, wawancara yang tidak terstruktur.
Berbicara soal wawancara terstruktur ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
Mempersiapkan pertanyaan yang cerdas
Pertanyaan yang cerdas diperlukan agar reporter bisa mendapatkan semua informasi yang diperlukan. Pertanyaan yang cerdas tidak akan datang dengan begitu saja sehingga reporter perlu mempersiapkannya sebelum wawancara berlangsung. Disamping itu, dengan menyusun daftar pertanyaan yang cerdas reporter dapat menguasai jalannya wawancara sehingga tidak terjebak oleh situasi wawancara terutama apabila pihak narasumber ahli untuk mengalihkan pembicaraan.
Menentukan narasumber yang tepat.
Narasumber yang tepat tidak harus selalu orang yang terkenal atau mempunyai kekuasaan, namun orang yang memang benar-benar menguasai masalah yang akan kita liput.
Membuat janji dengan narasumber.
Membuat janji sangat diperlukan apabila narasumber yang dihubungi adalah seseorang yang sibuk dan hanya mempunyai sediki waktu untuk banyak agenda. Janji untuk wawancara bisa dilakukan secara langsung dengan bertatap muka atau melalu telephon.
Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan.
Peralatan wawancara sangat penting karena wawancara bisa gagal total apabila kita tidak mempunyai alat untuk mencatat hasil wawancara. Akan sangat safe apabila selama wawancara seorang reporter encatat pembicaraan yang pentinbg sambil merekam hasil pembicaraan. Peralatan yang diperlukan misalnya blocknote, ballpoint, kamera, dan recorder.
Apabila kita menginginkan wawancara kita berjalan dengan baik dan sukses, maka ada beberapa aktivitas yang seharusnya kita lakukan saat wawancara berlangsung. Adapun diantaranya adalah sebagai berikut:
- Berbasa-basi, namun pertanyaannya jangan yang basi. Berbasa-basi diperlukan untuk membuat suasana tidak tidak tegang dan menjemukan. Namun, bila narasumber tidak mempunyai banyak waktu, kita tidak perlu melakukannya. Pertanyaan yang basi maksudnya pertanyaan tersebut sudah tidak aktual lagi.
- Melontarkan pertanyaan yang cerdas.
Pertanyaan yang cerdas perlu dilontarkan terlebih dahulu sehingga bila secara tiba-tiba waktu wawancara habis, reporter telah mempunyai informasi penting yang diperlukan untuk menulis berita.
Mencari informasi yang detail.
Informasi yang detail dan membuka perspektif yang luas bagi reporter maupun pembaca. Bila narasumber menyebutkan contoh, reporter harus meminta narasumber menjelaskan mengenai contohyang disebutkan. Misalnya kita sedang mencari berita tentang desa tertinggal di wilayah Malang lalu narasumber kita menyebutkan salah satu contoh desa tertinggal yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Maka kita bisa mengusut lebih luas lagi mengenai di mana desa itu berada, bagaimana cra menempuh kesana, dan sebagainya.
Adapun beberapa teknik wawancara yang dapat kita lakukan dengan melihat tujuan maupun situasi saat kita melakukan wawancara adalah sebagai berikut:
Wawancara sederhana.
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan informasi-informasi sederhana yang sasaran utamanya untuk menulis straight news. Dalam wawancara sederhana ini hanya memenuhi standard minimal persyaratan 5W+1H.
Wawancara mengorek.
Dalam hal ini seorang wartawan mempunyai tujuan mencari informasi sebanyak-banyaknya, bahkan sampai menyentuh daerah-daerah yang disembunyikan oleh narasumber.
Wawancra pancingan.
Untuk teknik ini dibutuhkan keahlian oleh seorang wartawan, dan biasanya digunakan untuk mengukur keprofesionalan seorang wartawan. Dengan sedikit pertanyaan diharapkan narasumber akan bercerita banyak tentang hal yang kita butuhkan.
Wawancara empati.
Wawancara ini sangat tepat untuk mencari berita atau peliputan-peliputan musibah. Dari hasil wawancara ini biasanya akan dihasilkan tulisan yang humanistik.
Wawancara oposisi.
Wawancara oposisi sangat tepat untuk narasumber yang pelit dan bandel. Tetapi untuk teknik ini sangat berbahaya karena mungkin narasumber akan terbawa emosi.
Wawancara diskusi.
Dalam hal ini narasumber harus harus memiliki waktu luang dan intelektualitas yang tinggi. Hati-hati dalam teknik ini karena kita kita bisa merasa lebih tinggi daripada narasumber.
Wawancara moderator.
Teknik ini kita gunakan apabila kita menghadapi narasumber yang lebih dari satu orang. Dalam hal ini kita memposisikan diri sebagai seorang moderator.
Setelah mengetahui teknik-teknik dalam wawancara sebaiknya kita juga harus mengetahui tipe-tipe narasumber. Berikut ini tipe-tipe narasumber.
- Orang yang kaya wawasan, menguasai permasalahan, mudah diwawancarai, dan enak dalam penyampaian jawaban-jawabannya.
- Orang yang kaya wawasan, menguasai permasalahan, mudah diwawancarai, namun berbelit-belit dan kaku dalam penyampaian jawabannya.
- Orang yang kaya wawasan, menguasai permasalahan, namun sulit untuk diwawancarai.
- Orang yang tidak menguasai permasalahan, namun mudah diwawancarai.
- Orang yang mudah diwawancarai, murah informasi, namun ternyata mudah pula mengelak bila terjadi kesalahan dalam opininya.
Serta masih banyak lagi tipe-tipe narasumber yang harus dipelajari sebelumnya. Masing-masing tipe narasumber tentunya membutuhkan kiat tertentu atau cara-cara tertentu. Dalam melakukan wawancara sebaiknya kita memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
- Siapapun orang yang akan kita wawancarai, harus kita hormati. Pewawancara harus mampu tampil dengan kesan yang positif, baik dalam gaya penampilan maupun cara dalam setiap bicaranya.
- Jangan bertindak gegabah. Sebaiknya pahami dan pelajari terlebih dahulu latar belakang masalah yang akan dijadikan bahan pertanyaan.
- Ajukan pertanyaan secara sederhana dan wajar saja tanpa ada kesan bertele-tele.
- Perlu diingat tujuan wawancara adalah untuk mendapatkan informasi sebagai bahan tulisan bukan suatu proses introgasi.
- Meminta narasumber untuk mengulangi jawabannya bukan hal yang tabu dan melakukan. Ini penting untuk menjaga kebenaran informasi dan pemahaman kita.
- Menyusun pertanyaan secara tertulis memang baik. Ini terutama apabila dikehendaki oleh narasumber. Kelemahan metode ini pewawancara tidak dapat mengejar lebih jauh jawaban yang diberikan.
- Recorder merupakan suatu sarana yag membantu, namun sebaiknya tidak menggantungkan diri pada recorder tersebut.
- Kode etik jurnalistik harus tetap dipegang teguh selama mengadakan wawancara.
Akan tetapi harus kita ingat, bagian wawancara yang penting bukan hanya saat kita sedang berhadapan dengan narasumber dan merekam wawancara tersebut, tetapi juga proses yang akan dan sedang dilangsungkannya wawancara. Mengingat hal ini, kita perlu untuk memperhatikan kesan, ekspresi, dan tingkah laku narasumber kita yang bisa memberi arti tertentu dan mempermudah kita dalam menulis berita sehingga hasilnya lebih menarik dan enak dibaca. Satu hal lagi yang akan mempermudah reporter mencari berita adalah ketika sudah tahu sudut berita yang akan ditulis sehingga reportase yang kita lakukan akan terarah dan tidak banyak membuang tenaga, waktu, dan pikiran.
Satu hal yang perlu kita ingat, motto seorang jurnalis adalah ’Menyuguhkan informasi yang memuaskan pembaca, bukan informasi yang mengenyangkan pembaca. sam Adha Budi Dharma